Business Insight Inspiration BisnisLebihBaik

3 Kebiasaan Berbelanja Pelanggan Ritel saat Ramadan, Anda yang Mana?

By Himawan Pradipta on May, 27 2019
Himawan Pradipta

Lead Writer di Moka Indonesia

Dari kacamata bisnis, bulan Ramadan dilihat sebagai momentum untuk menuai untung. Khususnya di industri ritel, di mana banyak pelanggan akan membeli barang-barang baru untuk “menyegarkan” atau “memperbarui” penampilan dan gaya mereka setelah 11 bulan menggunakan produk yang sama. Entah itu pakaian, aksesoris, atau alat elektronik menjadi incaran para pelanggan terlepas dari usia atau agamanya. Kebutuhan para pelanggan untuk membeli barang baru ini juga didasari oleh berbagai faktor, khususnya dari faktor siber-sosial. Kehadiran media sosial seperti Instagram dan Facebook untuk memasarkan produk tentu membuka akses selebar-lebarnya bagi konsumen potensial.  Dengan perubahan model pemasaran bisnis seperti ini, kami pun mengamati kebiasaan berbelanja pelanggan saat bulan Ramadan di tahun 2018. Barang-barang seperti baju muslim, sepatu, dan gadget ternyata masih memiliki jumlah permintaan yang tinggi di Indonesia. Untuk itu, berikut adalah tiga data paling menarik seputar kebiasaan berbelanja pelanggan di industri ritel pada bulan Ramadan 2018.  Hijab sang primadona pakaian muslim Memang, tren bisnis di industri ritel saat bulan suci ini tidak jauh-jauh dengan pakaian muslim. Di tahun 2018, salah satu jenis pakaian muslim yang paling banyak diincar adalah hijab. Penutup kepala bagi perempuan ini ternyata konsisten memiliki jumlah permintaan yang tinggi dibandingkan barang lainnya. Dengan angka pertumbuhan sebesar hampir 80 persen, hijab menempati posisi tertinggi dibandingkan baju koko dan sarung dalam kategori pakaian muslim.  Eits, tapi hijab yang seperti apa sih? Apakah hijab berbahan pasmina atau satin yang lebih banyak digandrungi kaum perempuan? Apakah hijab yang tembus pandang atau tebal? Bagaimana dengan warnanya? Apakah ternyata rata-rata pelanggan lebih suka warna hijab yang terang benderang atau justru gelap? Lalu, apalagi sih pakaian muslim yang paling populer setelah hijab? Nah, sabar dulu. Yuk unduh e-book terbaru kami seputar kebiasaan berbelanja pelanggan di bulan Ramadan untuk mendapatkan data selengkapnya.  Sabtu si hari paling sibuk berbelanja Seiring dengan jam-jam buka dan tutup toko yang berubah saat Ramadan, hari-hari teramai di toko untuk berbelanja juga mengalami perubahan. Temuan kami menunjukkan bahwa akhir pekan adalah hari-hari yang paling ramai bagi orang-orang untuk berbelanja. Puncaknya terjadi pada hari Sabtu, di mana orang-orang melepaskan rasa penatnya setelah lima hari bekerja. Mengapa bukan Minggu? Minggu adalah hari istirahat. Kebanyakan orang ternyata malas untuk pergi ke luar dan melakukan aktivitas apapun saat bulan puasa di hari Minggu.  Lalu, bagaimana dengan hari-hari biasa? Apakah ramai juga atau justru sepi? Apakah fakta bahwa orang-orang lebih banyak pergi belanja di akhir pekan membuat mereka semangat untuk belanja di hari biasa? Ternyata tidak juga. Temuan kami juga menemukan bahwa hari-hari biasa masih digandrungi sebagian orang untuk berbelanja. Namun, hari apa saja? Nah, unduh e-book kami untuk mencari tahu informasi selengkapnya.  Pagi jadi waktu pilihan daripada sore hari Satu potongan data yang cukup menarik terkait kebiasaan berbelanja pelanggan ritel saat Ramadan adalah mereka lebih senang belanja di pagi hari. Pukul berapa tepatnya? Temuan kami menunjukkan bahwa dari pukul 7 hingga pukul 10 pagi adalah waktu-waktu paling sibuk untuk berbelanja. Mengapa demikian? Rentang waktu tersebut adalah rentang di mana orang-orang masih memiliki energi dan fokus yang cukup untuk memilih dan memilah barang yang akan dibeli.  Nah, bagaimana dengan sore hari? Apakah tidak ada orang-orang yang berbelanja saat sore hari? Apakah orang-orang sudah kehilangan tenaganya untuk memilih barang belanjaannya dan fokus untuk membeli makanan untuk berbuka puasa? Oh, ternyata tidak juga. Simak data selengkapnya di e-book terbaru kami.  Dari ketiga data tentang kebiasaan berbelanja pelanggan ritel di bulan Ramadan tersebut, apakah Anda sebagai pelaku usaha sudah mempersiapkan strategi untuk bisnis Anda sendiri? Khususnya jika bisnis Anda bergerak di industri ritel seperti pakaian, aksesoris, atau elektronik, data-data ini tentu bisa Anda gunakan untuk menjadi landasan yang kokoh untuk strategi bisnis Anda di bulan Ramadan tahun ini.  Semangat mencoba ya!

Dari kacamata bisnis, bulan Ramadan dilihat sebagai momentum untuk menuai untung. Khususnya di industri ritel, di mana banyak pelanggan akan membeli barang-barang baru untuk “menyegarkan” atau “memperbarui” penampilan dan gaya mereka setelah 11 bulan menggunakan produk yang sama.

Entah itu pakaian, aksesoris, atau alat elektronik menjadi incaran para pelanggan terlepas dari usia atau agamanya. Kebutuhan para pelanggan untuk membeli barang baru ini juga didasari oleh berbagai faktor, khususnya dari faktor siber-sosial. Kehadiran media sosial seperti Instagram dan Facebook untuk memasarkan produk tentu membuka akses selebar-lebarnya bagi konsumen potensial.

Dengan perubahan model pemasaran bisnis seperti ini, kami pun mengamati kebiasaan berbelanja pelanggan saat bulan Ramadan di tahun 2018. Barang-barang seperti baju muslim, sepatu, dan gadget ternyata masih memiliki jumlah permintaan yang tinggi di Indonesia. Untuk itu, berikut adalah tiga data paling menarik seputar kebiasaan berbelanja pelanggan di industri ritel pada bulan Ramadan 2018.

 

1. Hijab sang primadona pakaian muslim

Dari kacamata bisnis, bulan Ramadan dilihat sebagai momentum untuk menuai untung. Khususnya di industri ritel, di mana banyak pelanggan akan membeli barang-barang baru untuk “menyegarkan” atau “memperbarui” penampilan dan gaya mereka setelah 11 bulan menggunakan produk yang sama. Entah itu pakaian, aksesoris, atau alat elektronik menjadi incaran para pelanggan terlepas dari usia atau agamanya. Kebutuhan para pelanggan untuk membeli barang baru ini juga didasari oleh berbagai faktor, khususnya dari faktor siber-sosial. Kehadiran media sosial seperti Instagram dan Facebook untuk memasarkan produk tentu membuka akses selebar-lebarnya bagi konsumen potensial.  Dengan perubahan model pemasaran bisnis seperti ini, kami pun mengamati kebiasaan berbelanja pelanggan saat bulan Ramadan di tahun 2018. Barang-barang seperti baju muslim, sepatu, dan gadget ternyata masih memiliki jumlah permintaan yang tinggi di Indonesia. Untuk itu, berikut adalah tiga data paling menarik seputar kebiasaan berbelanja pelanggan di industri ritel pada bulan Ramadan 2018.  Hijab sang primadona pakaian muslim Memang, tren bisnis di industri ritel saat bulan suci ini tidak jauh-jauh dengan pakaian muslim. Di tahun 2018, salah satu jenis pakaian muslim yang paling banyak diincar adalah hijab. Penutup kepala bagi perempuan ini ternyata konsisten memiliki jumlah permintaan yang tinggi dibandingkan barang lainnya. Dengan angka pertumbuhan sebesar hampir 80 persen, hijab menempati posisi tertinggi dibandingkan baju koko dan sarung dalam kategori pakaian muslim.  Eits, tapi hijab yang seperti apa sih? Apakah hijab berbahan pasmina atau satin yang lebih banyak digandrungi kaum perempuan? Apakah hijab yang tembus pandang atau tebal? Bagaimana dengan warnanya? Apakah ternyata rata-rata pelanggan lebih suka warna hijab yang terang benderang atau justru gelap? Lalu, apalagi sih pakaian muslim yang paling populer setelah hijab? Nah, sabar dulu. Yuk unduh e-book terbaru kami seputar kebiasaan berbelanja pelanggan di bulan Ramadan untuk mendapatkan data selengkapnya.  Sabtu si hari paling sibuk berbelanja Seiring dengan jam-jam buka dan tutup toko yang berubah saat Ramadan, hari-hari teramai di toko untuk berbelanja juga mengalami perubahan. Temuan kami menunjukkan bahwa akhir pekan adalah hari-hari yang paling ramai bagi orang-orang untuk berbelanja. Puncaknya terjadi pada hari Sabtu, di mana orang-orang melepaskan rasa penatnya setelah lima hari bekerja. Mengapa bukan Minggu? Minggu adalah hari istirahat. Kebanyakan orang ternyata malas untuk pergi ke luar dan melakukan aktivitas apapun saat bulan puasa di hari Minggu.  Lalu, bagaimana dengan hari-hari biasa? Apakah ramai juga atau justru sepi? Apakah fakta bahwa orang-orang lebih banyak pergi belanja di akhir pekan membuat mereka semangat untuk belanja di hari biasa? Ternyata tidak juga. Temuan kami juga menemukan bahwa hari-hari biasa masih digandrungi sebagian orang untuk berbelanja. Namun, hari apa saja? Nah, unduh e-book kami untuk mencari tahu informasi selengkapnya.  Pagi jadi waktu pilihan daripada sore hari Satu potongan data yang cukup menarik terkait kebiasaan berbelanja pelanggan ritel saat Ramadan adalah mereka lebih senang belanja di pagi hari. Pukul berapa tepatnya? Temuan kami menunjukkan bahwa dari pukul 7 hingga pukul 10 pagi adalah waktu-waktu paling sibuk untuk berbelanja. Mengapa demikian? Rentang waktu tersebut adalah rentang di mana orang-orang masih memiliki energi dan fokus yang cukup untuk memilih dan memilah barang yang akan dibeli.  Nah, bagaimana dengan sore hari? Apakah tidak ada orang-orang yang berbelanja saat sore hari? Apakah orang-orang sudah kehilangan tenaganya untuk memilih barang belanjaannya dan fokus untuk membeli makanan untuk berbuka puasa? Oh, ternyata tidak juga. Simak data selengkapnya di e-book terbaru kami.  Dari ketiga data tentang kebiasaan berbelanja pelanggan ritel di bulan Ramadan tersebut, apakah Anda sebagai pelaku usaha sudah mempersiapkan strategi untuk bisnis Anda sendiri? Khususnya jika bisnis Anda bergerak di industri ritel seperti pakaian, aksesoris, atau elektronik, data-data ini tentu bisa Anda gunakan untuk menjadi landasan yang kokoh untuk strategi bisnis Anda di bulan Ramadan tahun ini.  Semangat mencoba ya!

Memang, tren bisnis di industri ritel saat bulan suci ini tidak jauh-jauh dengan pakaian muslim. Di tahun 2018, salah satu jenis pakaian muslim yang paling banyak diincar adalah hijab. Penutup kepala bagi perempuan ini ternyata konsisten memiliki jumlah permintaan yang tinggi dibandingkan barang lainnya. Dengan angka pertumbuhan sebesar hampir 80 persen, hijab menempati posisi tertinggi dibandingkan baju koko dan sarung dalam kategori pakaian muslim.

Eits, tapi hijab yang seperti apa sih? Apakah hijab berbahan pasmina atau satin yang lebih banyak digandrungi kaum perempuan? Apakah hijab yang tembus pandang atau tebal? Bagaimana dengan warnanya? Apakah ternyata rata-rata pelanggan lebih suka warna hijab yang terang benderang atau justru gelap? Lalu, apalagi sih pakaian muslim yang paling populer setelah hijab? Nah, sabar dulu. Yuk unduh e-book terbaru kami seputar kebiasaan berbelanja pelanggan di bulan Ramadan untuk mendapatkan data selengkapnya.

 

2. Sabtu si hari paling sibuk berbelanja

Dari kacamata bisnis, bulan Ramadan dilihat sebagai momentum untuk menuai untung. Khususnya di industri ritel, di mana banyak pelanggan akan membeli barang-barang baru untuk “menyegarkan” atau “memperbarui” penampilan dan gaya mereka setelah 11 bulan menggunakan produk yang sama. Entah itu pakaian, aksesoris, atau alat elektronik menjadi incaran para pelanggan terlepas dari usia atau agamanya. Kebutuhan para pelanggan untuk membeli barang baru ini juga didasari oleh berbagai faktor, khususnya dari faktor siber-sosial. Kehadiran media sosial seperti Instagram dan Facebook untuk memasarkan produk tentu membuka akses selebar-lebarnya bagi konsumen potensial.  Dengan perubahan model pemasaran bisnis seperti ini, kami pun mengamati kebiasaan berbelanja pelanggan saat bulan Ramadan di tahun 2018. Barang-barang seperti baju muslim, sepatu, dan gadget ternyata masih memiliki jumlah permintaan yang tinggi di Indonesia. Untuk itu, berikut adalah tiga data paling menarik seputar kebiasaan berbelanja pelanggan di industri ritel pada bulan Ramadan 2018.  Hijab sang primadona pakaian muslim Memang, tren bisnis di industri ritel saat bulan suci ini tidak jauh-jauh dengan pakaian muslim. Di tahun 2018, salah satu jenis pakaian muslim yang paling banyak diincar adalah hijab. Penutup kepala bagi perempuan ini ternyata konsisten memiliki jumlah permintaan yang tinggi dibandingkan barang lainnya. Dengan angka pertumbuhan sebesar hampir 80 persen, hijab menempati posisi tertinggi dibandingkan baju koko dan sarung dalam kategori pakaian muslim.  Eits, tapi hijab yang seperti apa sih? Apakah hijab berbahan pasmina atau satin yang lebih banyak digandrungi kaum perempuan? Apakah hijab yang tembus pandang atau tebal? Bagaimana dengan warnanya? Apakah ternyata rata-rata pelanggan lebih suka warna hijab yang terang benderang atau justru gelap? Lalu, apalagi sih pakaian muslim yang paling populer setelah hijab? Nah, sabar dulu. Yuk unduh e-book terbaru kami seputar kebiasaan berbelanja pelanggan di bulan Ramadan untuk mendapatkan data selengkapnya.  Sabtu si hari paling sibuk berbelanja Seiring dengan jam-jam buka dan tutup toko yang berubah saat Ramadan, hari-hari teramai di toko untuk berbelanja juga mengalami perubahan. Temuan kami menunjukkan bahwa akhir pekan adalah hari-hari yang paling ramai bagi orang-orang untuk berbelanja. Puncaknya terjadi pada hari Sabtu, di mana orang-orang melepaskan rasa penatnya setelah lima hari bekerja. Mengapa bukan Minggu? Minggu adalah hari istirahat. Kebanyakan orang ternyata malas untuk pergi ke luar dan melakukan aktivitas apapun saat bulan puasa di hari Minggu.  Lalu, bagaimana dengan hari-hari biasa? Apakah ramai juga atau justru sepi? Apakah fakta bahwa orang-orang lebih banyak pergi belanja di akhir pekan membuat mereka semangat untuk belanja di hari biasa? Ternyata tidak juga. Temuan kami juga menemukan bahwa hari-hari biasa masih digandrungi sebagian orang untuk berbelanja. Namun, hari apa saja? Nah, unduh e-book kami untuk mencari tahu informasi selengkapnya.  Pagi jadi waktu pilihan daripada sore hari Satu potongan data yang cukup menarik terkait kebiasaan berbelanja pelanggan ritel saat Ramadan adalah mereka lebih senang belanja di pagi hari. Pukul berapa tepatnya? Temuan kami menunjukkan bahwa dari pukul 7 hingga pukul 10 pagi adalah waktu-waktu paling sibuk untuk berbelanja. Mengapa demikian? Rentang waktu tersebut adalah rentang di mana orang-orang masih memiliki energi dan fokus yang cukup untuk memilih dan memilah barang yang akan dibeli.  Nah, bagaimana dengan sore hari? Apakah tidak ada orang-orang yang berbelanja saat sore hari? Apakah orang-orang sudah kehilangan tenaganya untuk memilih barang belanjaannya dan fokus untuk membeli makanan untuk berbuka puasa? Oh, ternyata tidak juga. Simak data selengkapnya di e-book terbaru kami.  Dari ketiga data tentang kebiasaan berbelanja pelanggan ritel di bulan Ramadan tersebut, apakah Anda sebagai pelaku usaha sudah mempersiapkan strategi untuk bisnis Anda sendiri? Khususnya jika bisnis Anda bergerak di industri ritel seperti pakaian, aksesoris, atau elektronik, data-data ini tentu bisa Anda gunakan untuk menjadi landasan yang kokoh untuk strategi bisnis Anda di bulan Ramadan tahun ini.  Semangat mencoba ya!

Seiring dengan jam-jam buka dan tutup toko yang berubah saat Ramadan, hari-hari teramai di toko untuk berbelanja juga mengalami perubahan. Temuan kami menunjukkan bahwa akhir pekan adalah hari-hari yang paling ramai bagi orang-orang untuk berbelanja. Puncaknya terjadi pada hari Sabtu, di mana orang-orang melepaskan rasa penatnya setelah lima hari bekerja. Mengapa bukan Minggu? Minggu adalah hari istirahat. Kebanyakan orang ternyata malas untuk pergi ke luar dan melakukan aktivitas apapun saat bulan puasa di hari Minggu.

Lalu, bagaimana dengan hari-hari biasa? Apakah ramai juga atau justru sepi? Apakah fakta bahwa orang-orang lebih banyak pergi belanja di akhir pekan membuat mereka semangat untuk belanja di hari biasa? Ternyata tidak juga. Temuan kami juga menemukan bahwa hari-hari biasa masih digandrungi sebagian orang untuk berbelanja. Namun, hari apa saja? Nah, unduh e-book kami untuk mencari tahu informasi selengkapnya.

 

3. Pagi jadi waktu pilihan daripada sore hari

Dari kacamata bisnis, bulan Ramadan dilihat sebagai momentum untuk menuai untung. Khususnya di industri ritel, di mana banyak pelanggan akan membeli barang-barang baru untuk “menyegarkan” atau “memperbarui” penampilan dan gaya mereka setelah 11 bulan menggunakan produk yang sama. Entah itu pakaian, aksesoris, atau alat elektronik menjadi incaran para pelanggan terlepas dari usia atau agamanya. Kebutuhan para pelanggan untuk membeli barang baru ini juga didasari oleh berbagai faktor, khususnya dari faktor siber-sosial. Kehadiran media sosial seperti Instagram dan Facebook untuk memasarkan produk tentu membuka akses selebar-lebarnya bagi konsumen potensial.  Dengan perubahan model pemasaran bisnis seperti ini, kami pun mengamati kebiasaan berbelanja pelanggan saat bulan Ramadan di tahun 2018. Barang-barang seperti baju muslim, sepatu, dan gadget ternyata masih memiliki jumlah permintaan yang tinggi di Indonesia. Untuk itu, berikut adalah tiga data paling menarik seputar kebiasaan berbelanja pelanggan di industri ritel pada bulan Ramadan 2018.  Hijab sang primadona pakaian muslim Memang, tren bisnis di industri ritel saat bulan suci ini tidak jauh-jauh dengan pakaian muslim. Di tahun 2018, salah satu jenis pakaian muslim yang paling banyak diincar adalah hijab. Penutup kepala bagi perempuan ini ternyata konsisten memiliki jumlah permintaan yang tinggi dibandingkan barang lainnya. Dengan angka pertumbuhan sebesar hampir 80 persen, hijab menempati posisi tertinggi dibandingkan baju koko dan sarung dalam kategori pakaian muslim.  Eits, tapi hijab yang seperti apa sih? Apakah hijab berbahan pasmina atau satin yang lebih banyak digandrungi kaum perempuan? Apakah hijab yang tembus pandang atau tebal? Bagaimana dengan warnanya? Apakah ternyata rata-rata pelanggan lebih suka warna hijab yang terang benderang atau justru gelap? Lalu, apalagi sih pakaian muslim yang paling populer setelah hijab? Nah, sabar dulu. Yuk unduh e-book terbaru kami seputar kebiasaan berbelanja pelanggan di bulan Ramadan untuk mendapatkan data selengkapnya.  Sabtu si hari paling sibuk berbelanja Seiring dengan jam-jam buka dan tutup toko yang berubah saat Ramadan, hari-hari teramai di toko untuk berbelanja juga mengalami perubahan. Temuan kami menunjukkan bahwa akhir pekan adalah hari-hari yang paling ramai bagi orang-orang untuk berbelanja. Puncaknya terjadi pada hari Sabtu, di mana orang-orang melepaskan rasa penatnya setelah lima hari bekerja. Mengapa bukan Minggu? Minggu adalah hari istirahat. Kebanyakan orang ternyata malas untuk pergi ke luar dan melakukan aktivitas apapun saat bulan puasa di hari Minggu.  Lalu, bagaimana dengan hari-hari biasa? Apakah ramai juga atau justru sepi? Apakah fakta bahwa orang-orang lebih banyak pergi belanja di akhir pekan membuat mereka semangat untuk belanja di hari biasa? Ternyata tidak juga. Temuan kami juga menemukan bahwa hari-hari biasa masih digandrungi sebagian orang untuk berbelanja. Namun, hari apa saja? Nah, unduh e-book kami untuk mencari tahu informasi selengkapnya.  Pagi jadi waktu pilihan daripada sore hari Satu potongan data yang cukup menarik terkait kebiasaan berbelanja pelanggan ritel saat Ramadan adalah mereka lebih senang belanja di pagi hari. Pukul berapa tepatnya? Temuan kami menunjukkan bahwa dari pukul 7 hingga pukul 10 pagi adalah waktu-waktu paling sibuk untuk berbelanja. Mengapa demikian? Rentang waktu tersebut adalah rentang di mana orang-orang masih memiliki energi dan fokus yang cukup untuk memilih dan memilah barang yang akan dibeli.  Nah, bagaimana dengan sore hari? Apakah tidak ada orang-orang yang berbelanja saat sore hari? Apakah orang-orang sudah kehilangan tenaganya untuk memilih barang belanjaannya dan fokus untuk membeli makanan untuk berbuka puasa? Oh, ternyata tidak juga. Simak data selengkapnya di e-book terbaru kami.  Dari ketiga data tentang kebiasaan berbelanja pelanggan ritel di bulan Ramadan tersebut, apakah Anda sebagai pelaku usaha sudah mempersiapkan strategi untuk bisnis Anda sendiri? Khususnya jika bisnis Anda bergerak di industri ritel seperti pakaian, aksesoris, atau elektronik, data-data ini tentu bisa Anda gunakan untuk menjadi landasan yang kokoh untuk strategi bisnis Anda di bulan Ramadan tahun ini.  Semangat mencoba ya!

Satu potongan data yang cukup menarik terkait kebiasaan berbelanja pelanggan ritel saat Ramadan adalah mereka lebih senang belanja di pagi hari. Pukul berapa tepatnya? Temuan kami menunjukkan bahwa dari pukul 7 hingga pukul 10 pagi adalah waktu-waktu paling sibuk untuk berbelanja. Mengapa demikian? Rentang waktu tersebut adalah rentang di mana orang-orang masih memiliki energi dan fokus yang cukup untuk memilih dan memilah barang yang akan dibeli.

Nah, bagaimana dengan sore hari? Apakah tidak ada orang-orang yang berbelanja saat sore hari? Apakah orang-orang sudah kehilangan tenaganya untuk memilih barang belanjaannya dan fokus untuk membeli makanan untuk berbuka puasa? Oh, ternyata tidak juga. Simak data selengkapnya di e-book terbaru kami.

Dari ketiga data tentang kebiasaan berbelanja pelanggan ritel di bulan Ramadan tersebut, apakah Anda sebagai pelaku usaha sudah mempersiapkan strategi untuk bisnis Anda sendiri? Khususnya jika bisnis Anda bergerak di industri ritel seperti pakaian, aksesoris, atau elektronik, data-data ini tentu bisa Anda gunakan untuk menjadi landasan yang kokoh untuk strategi bisnis Anda di bulan Ramadan tahun ini.

Sudah penasaran dengan informasi lengkapnya?

Simak artikelnya di sini.

Submit a Comment

Get Latest Info!

Moka Blog Grayscale
Copyright © 2018 Moka Teknologi Indonesia