E-Book

[Free E-book] Masa Depan Bisnis di Era Kenormalan Baru

By Sintia Astarina on December, 18 2020
Sintia Astarina

Tak ada yang lebih dinantikan para pemilik usaha selain membuka toko/outlet mereka kembali, menunggu orderan pelanggan, dan kembali meningkatkan penjualan seperti sedia kala.

Ya, mungkin COVID-19 bukan lagi topik yang ingin dibahas para pebisnis. “Ah, masa krisis sudah lewat,” begitu kata mereka. Namun pada kenyataannya, masih banyak pemilik usaha yang harus mati-matian berjuang demi memulihkan bisnis mereka seperti dulu lagi.

Di tengah masa-masa seperti ini, pebisnis dituntut untuk lebih adaptif terhadap perubahan, serta memiliki daya juang yang tinggi. Hal tersebut senada dengan apa yang diungkapkan Bapak Eddy Satria, Deputi Restrukturisasi Usaha Kementerian Koperasi dan UKM RI dalam acara A Cup of Moka (ACOM) Webinar yang diadakan pada Rabu, 26 Agustus 2020 lalu.

“Adanya pandemi menyebabkan 50% UMKM menutup usaha, 88% tidak memiliki tabungan, dan >60% usaha mikro mengurangi tenaga kerja. Sampai saat ini, langkah pemerintah untuk membantu pelaku UMKM mencakup pengembangan koperasi dan UMKM melalui perluasan akses pasar, peningkatan daya saing produk jasa dan pengembangan SDM, termasuk fokus pada digitalisasi UMKM,” paparnya.

Sebagai bentuk dukungan Moka terhadap upaya pemerintah dalam membantu para pemilik usaha agar lebih berani mengambil langkah #MajuDenganPasti, kami pun berkolaborasi dengan Kantar, sebuah perusahaan riset multinasional, untuk menghadirkan e-book berjudul “Tren Bisnis di Era Kenormalan Baru” yang akan menyuguhkan data-data terkini, fenomena dan tren yang sedang terjadi, serta tips & trik untuk memaksimalkan usaha di era new normal.

Kami juga menyajikan data internal dan hasil riset kepada merchant Moka yang akan membantu Anda untuk memahami lebih jauh terkait kondisi bisnis saat ini. Dengan demikian, Anda dapat memiliki arahan lebih pasti mengenai apa yang harus dilakukan selanjutnya. Beriku ini beberapa data dan insight menarik yang bisa dipelajari

Masa Depan Bisnis di Era Kenormalan Baru

1. Kemunculan bisnis rumahan

menjalankan usaha rumahan katering (1)

Ada fenomena menarik yang muncul di mana pelanggan bukan lagi seorang pelanggan, melainkan pemilik usaha pula. Di tengah pandemi COVID-19, banyak masyarakat mencoba peruntungan dengan menjalankan bisnis rumahan. Kebanyakan dari mereka membuka bisnis F&B, seperti menjual makanan dan minuman siap santap.

Bisnis rumahan ini dijalankan secara online, di mana pemilik usaha mempromosikan produk lewat media sosial, e-commerce, hingga WhatsApp Group. Untuk pengiriman produk pun biasanya menggunakan jasa layanan antar supaya lebih cepat dan praktis, serta mengurangi kontak langsung dengan pelanggan.

Tiga motivasi utama kemunculan bisnis rumahan ini adalah

  1. Melihat adanya peluang bisnis
  2. Mencari penghasilan tambahan
  3. Mengisi waktu luang

2. Meningkatnya transaksi dan pembayaran digital saat berbelanja

menggunakan pembayaran digital dan mendukung cashless society

Karena uang tunai merupakan salah satu wadah penyebaran virus COVID-19 yang paling cepat, penggunaannya pun mulai tergantikan dengan pembayaran digital

Kompas.com menyebutkan, Bank Indonesia (BI) mencatat adanya peningkatan transaksi digital dan penurunan transaksi tunai selama masa Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB).

Asisten Gubernur Kepala Departemen Kebijakan Sistem Pembayaran BI, Filianingsih Hendarta berujar, berbagai sektor kini telah beralih ke transaksi elektronik dengan memanfaatkan Quick Response Code Indonesia Standard (QRIS).

BI juga mencatat adanya peningkatan transaksi e-commerce sebesar 18,1%, menjadi 98,3 juta transaksi. Nilai transaksinya pun bertumbuh 9,9% menjadi Rp20,7 triliun. Tiga produk yang paling banyak dibeli ialah makanan, perlengkapan sekolah, dan alat kesehatan.

3. Perubahan gaya hidup pelanggan kala di rumah

promosi bisnis di media sosial - Cara Efektif Membuat dan Memantau Konten Media Sosial Bisnis

Semenjak pemerintah mengimbau seluruh masyarakat untuk belajar, bekerja, dan beribadah di rumah, tentu aktivitas lainnya pun kini terpusat di rumah.

Penelitian dari Kantar menemukan bahwa tingginya frekuensi aktivitas masyarakat selama di rumah menyebabkan mereka mendapatkan paparan berlebih ke media.

Paparan berlebih dapat membuat masyarakat menjadi jenuh hingga akhirnya mengurangi konsumsi media tersebut. Apabila Anda berencana untuk memanfaatkan berbagai media di atas sebagai sarana komunikasi atau promosi kepada pelanggan, buatlah rencana yang matang guna menghindari exposure berlebih dan mengoptimalkan anggaran.

Untuk mengetahui isi ebook ini selengkapnya, silakan klik tombol di bawah ini untuk men-download-nya secara gratis. Jangan sampai ketinggalan!

Klik untuk Baca E-book

Submit a Comment

Get Latest Info!

Moka Blog Grayscale
Copyright © 2018 Moka Teknologi Indonesia